Sunday, February 8, 2009

Kok bayar sich?

Beberapa minggu yang lalu, setiap hari minggu biasanya aku lari pagi di Stadion Bima Cirebon, seperti biasanya setelah masuk komplek stadion parkir motor langsung cabut keliling stadion. Namun ada yang aneh ketika minggu ini saya melakukan aktifitas yang sama. Semua pintu masuk stadion dijaga oleh beberapa orang berpakaian preman meminta uang parkir kepada pengendara sepeda motor. HAri YAng Aneh !!!! Besar parkirnya sich cuma seribu perak, namun klo diteliti lebih jauh ada beberapa kejanggalan :

1. Yang memungut retribusi parkir bukan instansi resmi(ILEGAL) melainkan atas nama Koperasi pedagang kaki lima yang gak jelas dimana koperasinya siapa penanggung jawabnya serta berbadan hukum atau tidak, secara resmi stadion tersebut dimiliki oleh Pertamina, klo yang memunggut pihak pertamina tidak menjadi persoalan.

2. Karena pungutan parkir tersebut dikategorikan pungutan Liar(Pungli) dan orang yang memungutnya pun ilegal maka secara administrasinya pun gak jelas. Dalam karcis tidak ada nomor seri karcis yang biasanya ada disetiap karcis parkir, petugas berpakaian preman, orangnya gak jauh dari dunia preman, indikasinya yang memungut parkir memakai anting. laki-laki sejati tidak akan mungkin memakainya :-), preman kan gak mungkin menggunakan seragam parkir yang resmi.

Seharusnya mereka (yang memungut retribusi) sadar, klo pengunjung sepi gara-gara malas masuk komplek karena ada uang parkir, trus stadion jadi sepi, apa enggak hilang tuh penghasilan mereka?

Belajar dari kejadian tersebut, saya punya wacana menciptakan sarana olahraga dan tempat hiburan bagi masyarakat luas yang murah, tanpa adanya pungutan parkir. bagi para Caleg mungkin ini program yang bagus untuk dijadikan modal Visi dan Misi. Bangsa ini sudah banyak pungutan Liar, lihatlah para angkot yang bersikukuh menolak menurunkan tarifnya karena alasan tersebut.

Memang disatu sisi retribusi parkir menyangkut dapur orang banyak, namun cukuplah retribusi dikenakan pada pusat perbelanjaan saja yang notabenenya seseorang akan mengeluarkan uang untuk kepertuan konsumsi atau bisnis. Masa iya masyarakat yang ingin mengeluarkan keringat dan melepaskan penat juga harus bayar?